Catat 5 Ciri Ciri Investasi Bodong yang Harus Dihindari Oleh Pemula


Seorang pemula terkadang belum begitu memahami investasi yang sifatnya resmi dan aman. Malahan investasi yang diharapkan menguntungkan justru terjerumus pada investasi bodong yang merugikan. Oleh karena itu, pemula perlu memahami ciri ciri investasi bodong agar tidak terpengaruh pada iming-iming keuntungan yang tinggi saja saat baru pertama berinvestasi.

Lembaga investasi bisa dikategorikan bodong apabila masuk dalam beberapa jenis, seperti investasi yang tidak memiliki izin OJK. Terkadang ada juga investasi yang dijalankan oleh koperasi yang ternyata hanya penipuan belaka. Alih-alih mendapat keuntungan, dana yang sudah diinvestasikan tidak dapat dipastikan keberadaannya. Agar tidak tertipu, berikut ciri-ciri yang harus dihindari saat memulai investasi di suatu lembaga:

1. Tawaran Keuntungan Berlimpah

Tujuan berinvestasi adalah mendapatkan sejumlah keuntungan dalam jangka panjang. Biasanya ciri ciri investasi bodong yaitu lembaga menawarkan return yang terlampau tinggi, sehingga terkesan mengada-ngada. Padahal biasanya keuntungan yang bisa diperoleh untuk investasi jangka panjang hanya sekitar 15% sampai 20%. Sehingga, bila return yang ditawarkan lebih tinggi maka bisa dipastikan bila investasi bersifat penipuan.

Cara termudah untuk mendeteksi unsur penipuan bisa dilakukan dengan membandingkan keuntungan yang diterima dari suku bunga bank. Apabila investasi yang hendak diikuti menawarkan keuntungan lebih tinggi dari bank, maka penawaran tersebut perlu dicurigai. Adanya iming-iming keuntungan berlimpah ini tidak lain untuk menarik minat publik agar mengikuti investasi.

2. Tanpa Izin OJK

Lembaga yang memiliki izin OJK sudah pasti akan jauh lebih terjamin tingkat keamanannya. Umumnya pada investasi bodong perizinan sifatnya tidak jelas, sehingga menimbulkan tanda tanya di kalangan calon investor. Pembaca perlu mengecek izin yang dimiliki lembaga tersebut. Apabila masih belum jelas, sebaiknya simpan uang yang dimiliki dan jangan sia-siakan untuk berinvestasi di tempat yang salah.

3. Diminta Untuk Mengajak Nasabah Baru

Pada investasi bodong biasanya investor akan diminta untuk mencari calon nasabah baru. Padahal hal ini tentu tidak umum diterapkan pada lembaga investasi yang resmi. Sebab, biasanya pihak lembaga akan mempromosikan dengan cara yang resmi. Misalnya dengan mengunggah konten pada aplikasi atau website resmi milik lembaga. Sehingga, proses promosi tanpa melibatkan investor.

Bukan hanya sekedar anjuran saja, tetapi biasanya investor akan diwajibkan untuk merekrut anggota baru. Hal ini bertujuan agar semakin banyak orang yang terjerumus pada investasi bodong tersebut. Bila merasa didesak dengan sedikit paksaan, sebaiknya segera putus kontak dan berhenti mengikuti investasi tersebut. Upaya ini dilakukan untuk menghindari adanya penipuan saat berinvestasi.

4. Produk Tidak Jelas

Untuk memastikan legalitas dari lembaga investasi, calon investor bisa meminta detail produk yang ditawarkan. Lembaga yang resmi tentunya sudah mempersiapkan dokumen berisi produk investasi yang ditawarkan. Berbeda dengan investasi bodong yang biasanya kebingungan saat ditanyai tentang produk. Bahkan berusaha memberikan informasi yang tidak valid.

Untuk berdalih, biasanya lembaga non resmi akan memberikan produk yang tidak jelas. Bahkan tidak mampu menjelaskan pengelolaan dana dengan detail. Calon investor bisa terus mengajukan pertanyaan terkait dana yang akan diinvestasikan. Agar lebih meyakinkan, cobalah melihat produk investasi tersebut di website OJK untuk memastikan apakah benar sudah terdaftar atau belum.

5. Manajemen Keuangan Tidak Transparan

Investasi dari lembaga terpercaya akan melakukan manajemen keuangan dengan jelas dan transparan. Sehingga, investor bisa mengetahui kemanakah dana yang diinvestasikan. Sedangkan, pada investasi bodong tidak terdapat penjelasan yang jelas mengenai pengelolaan dana yang dilakukan. Untuk mengetahuinya, calon investor bisa bertanya langsung pada pihak lembaga yang akan diikuti.

Itulah informasi tentang ciri ciri investasi bodong yang patut dihindari oleh investor pemula. Kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan dalam mencari informasi lebih detail tentang sebuah lembaga. Apabila ragu untuk berinvestasi, pembaca bisa mengecek legalitas lembaga dengan melakukan browsing di internet. Dengan upaya preventif ini, diharapkan investor tidak tertipu adanya investasi yang bersifat penipuan.